Archive for August, 2006

Human beings. Why are they the way they are?

Wednesday, August 9th, 2006

Si Bodoh 1: "I would sail the seven seas just to find you."

Si Bodoh 2: "Don’t be silly. You can’t read maps."

Si Bodoh 1: "You see those beautiful stars in the night sky? I would fly up there, pick the best one, and bring it back for you."

Si Bodoh 2: "I thought you’re smarter than this. First, they’re heavy you know. Second, you’ll burn your hand. Third, if you bring even the smallest star to Earth, that means the end of the world. Didn’t your teacher ever tell you about the term ‘kiamat’?"

Si Bodoh 1: "Can’t you please appreciate every single thing I would do for you? What is so hard to say ‘thanks-dear-I-love-you’? Even if I say I would give you the whole world, can’t you just show me a little expression of happiness??”

Si Bodoh 2: “Did I ever ask you for that?”

Si Bodoh 1: “How could you say something so mean?”

Si Bodoh 2: “I’m not mean.”

Si Bodoh 1: “Your words are. I would do everything for you. Now tell me, if one day I die, would you die with me too?”

Si Bodoh 2: “Nope.”

Then Si Bodoh 1 turned his back and walked away.

Leaving Si Bodoh 2.

His heart broken.

He could never see Si Bodoh 2’s eyes.

Which were getting red and slightly puffy.

He’s stupid. She’s stupid.

She’s too stupid to tell what’s exactly on her mind.

He’s too stupid to ask her why.

“I don’t want you to get lost in the middle of nowhere. All alone in the stormy sea. I’m afraid of that. I swear I really am. And actually, you don’t have to go anywhere just to find me, because I’m always here beside you. Why don’t you take me along? So we can sail away, get lost, and get seasick together?”

“I’m not asking for the most beautiful star in the sky. I’m asking for the most beautiful moment in my life. That’s when you and I sit side by side, on top of the hill, watching this pretty night sky together. I don’t want you to risk your life to find something I never even asked for. What if you’re lost in the space and never return? Living a life without you feels like ‘kiamat’ for me.”

“If you’re too busy collecting every piece of the world, then you won’t have time to be with me. I’m not asking for the world. I’m asking to be with you. That means more than the world for me.”

“You don’t have to be someone who can do so many great things just to make me love you. Because I love you in every way.”

Little_white_flower“I want to put some little white flowers on your gravestone.  I want to pray for you everyday. I want to ask The Lord to place you in the most beautiful garden Heaven can have, and to take care of you forever. I know there’s nothing harder than living a life without you beside me, but no, I can’t die with you. It’s illegal and sinful to commit suicide. And if I do that, then I won’t be able to do all those things for you.”

“I haven’t finished my sentences. That’s my fault, I’m sorry. But if only you asked me why…”

That’s the reason Si Bodoh 1 could never hear.

***

Yak, kisah yang tolol. Maaf deh gue nggak jago bikin cerita yang lebih intelek. Ini bentuk ekstrimnya sih. Tapi ada aja kok yang kayak gitu. Sedih deh liatnya. Banyakan jengkelnya malah. Esssmosi memuncak seperti saat menonton sinetron-sinetron remaja yang diproduseri Raam Punjabi (fyi, konon telah berubah menjadi Ram Punjabii, atas alasan penyegaran nama) di stasiun-stasiun TV lokal. Huh!!

Tapi mau diapain lagi. Kadang manusia suka terluka oleh sesuatu yang sebenarnya nggak dibuat untuk melukai. Salah paham aja bisa bikin sakit hati. Banget. Padahal belum tentu ada maksud jahat. Bahkan nggak semua itikad baik berakhir bahagia.

Nggak semua orang bisa melihat suatu alasan secara utuh. Banyak orang nggak bisa menjelaskan suatu alasan dengan lengkap. Mungkin karena penyampai info malu, takut, atau kemampuan verbalnya buruk. Dan parahnya, si penerima info nggak bisa mengerti.

Mungkin juga karena,

Lo belum selesai ngomong, dia udah bikin kesimpulan sendiri.

Kita niatnya begini, mereka mikirnya begitu.

Si ini nggak bisa menjelaskan maksudnya, si itu nggak pernah konfirmasi.

Trus masing-masing salah mengerti.

Ujung-ujungnya perang deh.

Duh, jangan dong.

Jangan begitu.

Apa susahnya mengungkapkan sesuatu dengan jelas?

Apa susahnya bertanya lebih lanjut?

Sulit memahami.

Sulit dipahami.

Tolong kasih tau gue,

Kenapa ya manusia seperti itu? :(

Kualatable = easy to get kualat

Wednesday, August 2nd, 2006

Kualatable = easy to get kualat

Setelah tragedi kutukan Ian Kasela pada bulan Juni lalu (yang nggak ngerti baca post gue sebelumnya), gue semakin curiga lidah ini punya kekuatan mistik untuk mengazab diri gue sendiri. Pendek kata, gue orang yang gampang kualat.

Maafkan_aku_ianNo offense, tapi setelah gue mengobservasi sinetron remaja masa kini, dan mengamati tingkah laku anak-anak SMP & SMA di mall, gue secara alamiah berujar,

“Ih, cewek ABG jaman sekarang produk massal yah? Kembar semua gitu. Semua model rambut pake PONI PENDEK MAKSA. Ugh, zebra aja beda satu sama lain kok. Mudah-mudahan anak cucu gue ntar nggak cewek-cewek itu.”

Sekali lagi, no offense. Gue juga punya poni. Tapi bukan yang maksa kayak gitu. Ini poni sejak lahir, tanpa pengaruh zaman hedon masa kini.

Nah Selasa kemarin, gue berniat memangkas rambut,

Pak Pencukur Di Salon (PPDS): ”Mau potong gimana?”

Gue   : ”Yah dirapiin aja. Layernya dibentuk lagi. Poninya dibenerin.”

Setelah beberapa menit.

PPDS: “Nah sekarang poninya. Coba merem.”

Setelah beberapa guntingan, gue membuka mata.

Melihat ke cermin.

Tampaklah bayangan mengerikan. Horor.

Itu “poni pendek maksa” a la ABG yang gue sumpahin tempo lalu!!!!

Gue   : (dengan cemas) “Pak, kok pendek banget??”

PPDS: ”Loh kan emang normalnya segini. Biasanya cewek-cewek seumur kamu modelnya kan gini. Aku sih udah hapal.”

Gue   : ”Tapi, ini bikin saya jadi kayak anak-anak..”

PPDS: (penuh percaya diri) ”Wajar kali. Jadi lebih lucu. Kamu SMP kelas berapa sih?”

Wakwaww.

TobatLo tau perasaan gue?

Bayangin lo seorang cowok emo yang mengusung aliran musik macem Weezer dkk.

Lalu tiba-tiba lo bangun dalam keadaan rambut klimis dan baju ketat bertali-tali atau kaus transparan berjaring seperti yang sedang populer menurut gay.com.

Dan kemudian seseorang nyeletuk, “Oooh, sejak kapan yey jadi homo?”

(Untuk semua anak ABG yang merasa tercemooh, gue mohon maaf. Gue akan jaga mulut gue)

Untunglah teknologi telah menemukan jepit rambut. Dialah penyelamat gue selama satu bulan ke depan sampai poni gue kembali ke ”poni original LHuRi yang sejati”.

Amin.

***

Masih terkait tema hari ini,

Gue merenung.

PPDS itu nggak salah. Gue aja yang harus lebih sabar.

Statistik membuktikan dia termasuk orang pada umumnya.

Bukti #1: di Superindo. Belanja.

Mbak-mbak kasir: ”Waah, pinter yah udah bisa bantu mama belanja sendiri.”

Dia nggak tahu betapa ganjilnya melontarkan pujian macam itu ke seorang mahasiswi semester 4.

Bukti #2: di restoran tante & nyokap gue. Membantu melayani pembeli.

Bapak pembeli: (pada anaknya) ”Tuh liat, hebat, kecil-kecil udah bantuin jualan.”

Anak pembeli terdiam, jelas terlihat anak itu memakai seragam putih dan rok merah.

Bukti #3: kondangan. Bersama bapak.

Oom-oom tak dikenal: “Waahh, putrinya udah gede yah mas. Anakku si **** aja kalah.”

Bapakku: ”Oh emang si **** umur berapa sekarang?”

OOTD: ”Udah masuk SMP lho.”

Bukti #4: gerai Giordano. Belanja sama Lusi.

Mbak-mbak Giordano: ”Mau coba yang ini? Biar kembar sama kakak kamu.”

Gue: ”…Itu adikku mbak..”

Cukup. Cukup. Sisanya rahasia. Udah ya.

Beberapa teman mencoba menghibur, ”Gak pa-pa Lhur. Kan awet muda”

Awet muda pale lu. Itu kan cuma berlaku buat Titiek Puspa.

Kakak gue yang jujur bilang, “Kalo sampe sekarang kamu masih dikira SMP itu mah bukan awet muda. Tapi nggak tumbuh!!”

Dulu waktu masih SMA, bisa tuh gue nangis karena sakit hati.

Sekarang gue udah kebal. Dan pasrah.

Dengan jatah tinggi badan gue segini, plus tampang ’anak-kurang-gizi’.

Gue udah belajar caranya mensyukuri hidup. Misalnya,

  1. Hemat anggaran buat beli baju.

  2. Sempet boleh beli Kid’s menu di Sizzler. Murah abis.

  3. Dapet tiket kereta tarif anak Groningen-DenHaag-Amsterdam. Hampir gratis.

  4. Hampir selalu dapet mainan di pesawat.

  5. Ntar klo main ski lagi di Melb, bisa beli paket children yang 50% lebih murah.

Ya, ya, ya agak miris sih, tapi terserahlah lo mo ngatain gue apa.

Yang penting gue udah bisa masuk Makro (lho?).

Pokoknya ntar liat 10 tahun lagi deh.

Gue akan jadi jauh lebih cantik, lebih dewasa, dan lebih keibuan dibanding mak lo.

Hahahahaha *tertawa hina dina*