Archive for September, 2006

Keajaiban cinta. Kesaktian Ari Wibowo.

Friday, September 22nd, 2006

Jijik gak sih baca judulnya? Gue sih iya. Banget.

Tapi mau diapain lagi? Emang si cinta ini efeknya suka mengejutkan, superheboh, gila-gilaan, dan berhadiah piring cantik (ha?). Ah pokoknya ajaib deh.

[Apaan sih Lhuri ngeblognya sok ngerti cinta-cintaan. Cupu lagi topiknya. Huh. Biarin deh]

Efek jatuh cinta emang beda-beda di setiap orang. Buat beberapa orang, itu bisa positif. Lo jadi rajin sekolah demi melihat wajahnya. Nggak gampang ngantuk. Terhindar dari obesitas karena otak senantiasa memutar theme song yang berdendang, “mau makan, teringat padamuuu..” sehingga lo jadi nggak nafsu makan kebanyakan. Lo jadi banyak senyum. Lo jadi mensyukuri hidup. Lo lebih rajin nyisir. Lo mau mandi biar nggak BB (Bau Babi). Lo jadi rajin olahraga biar wajah sehat, tubuh bugar, dan penampilan prima. Lo jadi berusaha memperluas wawasan supaya inner beauty lo terpancar.

Intinya, lo jadi lebih SEHAT lahir batin dunia akhirat. Iya, akhirat juga. Soalnya lo jadi lebih deket sama Tuhan, karena lo mulai rajin solat dan berdoa “Ya Allah, jika ia jodohku kumohon dekatkanlah padaku, dan kalau bukan, jadikanlah ia jodohku dan dekatkanlah dia padaku sedekat-dekatnya. Amin.”

Malu_malu_ayamTapi efek negatif juga ada sih, apalagi kalo akal sehat lo sedang dinonaktifkan. Lo jadi gampang sensitif. Cemburuan. Kege-eran. Deg-degan. Canggung. Malu-malu kucing. Malu-malu ayam. Malu-malu biawak. Malu-malu maluin. Grogian. Mau sok cool tapi justru cenderung bertindak bodoh.

Yang aneh-aneh juga ada. Lo jadi mendadak romantis. Mendadak gila. Mendadak dangdut. Mendadak norak deh pokoknya. Lo jadi suka tembang-tembang cinta milik Westlife, Thomas Djorghi, dan Dewi Persik. Lo nggak bisa tidur memikirkan si Cantik (ya gak Vy?). Lo mendadak jadi berani melakukan apapun demi dia. Mengarungi tujuh  samudra, menembus api, menerjang badai. Apapun rela lo lakukan, kecuali ditagih bayar uang kas.

Dan ketika cinta tidak berpihak pada seseorang..Terjadi rasa stres. Ada orang sampe minum Baygon karena Hit sudah dilarang. Make narkoba. Main dukun. Santet-menyantet. Bikin boneka Voodoo. Terobsesi sama siapapun yang mirip si dia (entah itu selebritis atau orang biasa seperti ibu, adik, ayah, eyang, oom, tante, maupun iguana peliharaan sang pujaan hati). Bunuh diri. Bunuh istri. Bunuh mertua. Bunuh pak RT. Nyolong kambing tetangga (ini mulai aneh).

Efek di luar itu lebih banyak lagi. Misalnya nih, kayak kakak gue. Setiap iklan FATIGON diputar di TV, dia bisa tiba-tiba membatu, mengalami kejang otot, berhenti bicara, mengabaikan segala aktivitas- dalam keadaan mata melotot, mulut basah (yang ini bohong deh), dan telunjuk kaku mengarah pada layar kaca. Bisa disimpulkan, dia jatuh cinta parah pada Ari Wibowo.

[Yah gue nggak tahu juga sih itu efek cinta atau kharisma Ari Wibowo yang terlalu mujarab..]

Tapi intinya sih, cinta itu bisa bikin orang melakukan hal-hal yang nggak lazim. Nggak wajar. Dan kadang di luar batas logika kaum primata.

Bener nggak? Maaf deh kalo nggak, hueueuehue.. ;p

Doctor Goodman and his unexplainable ’susuk pemikat’

Friday, September 22nd, 2006

Then he said, "Is everything clear?"
"Nothing is clear, except the fact that you’re so damn good looking"
And asked, "Do you have any questions?"
"Yes. Are you single?"

[I was getting insane.]
[Thank God I could successfully keep those words stay in my head.]

He and his lecture today. Microbiology. Immunoassay thingy. And stuff like that.
In excellent English. Super-fluent.
88-slide powerpoint presentation.
I didn’t pay attention to the rest 60 slides.
I was staring at his face.

Man, he’s not that so-damn-good-looking, though.
He even got this old-fashioned haircut.
And look at his abs. Six-pack? Hell no.
Anyway, he might be 40 or older.

But then,
What made him look so fine?
And seem very nice?
Gorgeous, brilliantly smart, and charming?
Still it remained a mystery.

(sumpah bukan gue doang yang kena pelet. Nindy aja ngiler.)
Doctor Goodman Defend, we heart you.

It’s some sweet little things that make you smile.

Monday, September 18th, 2006

I don’t have to win a billion rupiahs in Tantowi Yahya’s quiz just to be happy.

I don’t have to be a Mbak Tutut’s daughter in-law just to make myself proud.

I don’t have to play in one of Raam Punjabi’s films just to feel cool.

I don’t have to experience anything so great just to brighten up my days.

Because I believe good things come in small packages.

***

[Ini kejadian yang udah agak lama sih. Tapi blom sempet ngepost aja.]

Beberapa minggu kemarin, kalo otak gue nggak gue jejali dengan suplemen pikiran positif, pasti liburan gue bakal terasa suram dan nggak menyenangkan.

Beberapa hal bikin gue jengkel dan sedih. Makanya gue berusaha mengingat hal-hal kecil menyenangkan yang bisa menghapus efek negatif dari hal-hal besar menjengkelkan yang gue alami.

Hal-hal yang mungkin nggak penting buat lo.

Tapi hal-hal ini bisa bikin gue tersenyum, lebih mudah.

  1. Bau tanah basah sehabis hujan yang udah lama nggak gue temui.

  2. Sebentar lagi puasa = sebentar lagi kiriman kolang-kaling dari tetangga tiba!!

  3. Dekan Cup kelar. Final tennis ganda putri kelar. Huff. Akhirnya! Thanx to my partner Anita Henin-Hardenne yang jago berat. If it wasn’t because of her, we wouldn’t win the final game!
  4. Dapet oleh-oleh dari Vira. Tenyata walaupun pacaran all the time, dia tetep inget sama gue, hahahaha…(damai Vir!!)

  5. Bams meracuni bapakku. Selama liburan gue disuguhi wahana baru. Nonton bokap konser tunggal menyanyikan “Kenangan Terindah”-nya Samsons setiap pagi. Itu hal yang baik, karena senggaknya bukan “Benci bilang cinta”. Daradam –daradam. Ugh.

  6. Bisa nonton Janko Tipsarevic lebih dari dua jam di Star Sports.

  7. Nemu bunga matahari gedeeee banget.

  8. PSAU yang cupu tapi menyenangkan.
  9. Menemukan banyak komen lucu yang ajaib dan menghibur di blog ini :)
  10. Transkrip nilai tk.2 gue ketemu! Walaupun sempet nyesek karena nggak diitung kumlot, tapi 3.50 itu udah bagus banget buat gue. Mungkin mereka yang pengidap predikat cum-laude kronis, nilai segitu gak memuaskan. Atau mungkin buat orang lain yang nggak peduli sama nilai, itu nggak penting. Tapi buat gue, itu penting dan memuaskan. Senggaknya bisa membantu mengurungkan niat gue untuk meninggalkan dunia kedokteran, hahaha..
  11. Jogja dan Bali itu indah.
  12. Jakarta

    tetap segalanya.

  13. Baru nemu orang yang satu paham sama gue. Egois sih, tapi mati-muda-bahagia-sebelum-ditinggal-mati-duluan-sendirian emang lebih menarik kan? Iya gak Anak Durhaka? Hahaha, nwy, makasih banget lho majalah mas Ger-Ger nya.. ;p

  14. Liat hasil lomba Ngomik Animonster. Seneng karena karya mereka keren banget. Walaupun sempet jengkel karena kalah dan berniat menyantet dewan juri satu-persatu. (coba ya itu karya yang sama dengan yang gue pake buat menangin lomba serupa dua tahun lalu, yang udah direvisi disanasini dengan susah payah supaya jauh lebih rapi. Ngerjain sendirian. Di tengah pekan badai ujian muskulo dan CNS. Dan gue bahkan nggak dikasih juara harapan???!! Jahatnya..) Tapi nggak jadi kesel deh karena yang menang itu seribu kali jauh lebih baik dari karya gue. Gue aja yang nggak tau diri, heiheiehe..

  15. Jalan-jalan ke dufan gratis bareng temen-temen sekelas. Seorang sponsor yang tak mau disebut namanya udah berbaik hati bayarin kita semua, hehehee..Senang!
  16. Oleh-oleh dari Niza! Makasih dear!! Mau lagiiii…=D

  17. Kenyang di Poke Sushi. Makasih Binatang Besaaarrrr!!!!

  18. Oleh-oleh Cheezels dan Krispy Kreme dari Mas Dokter Selebritis yang mulia!! Enak..hahaha..

  19. Dapet lagi ”Story of A Girl’-nya NiKirain_udah_gedene Days! Hehe..Ah, jadi teringat.. :pNggak_banget
  20. 20. Hampir mengalahkan high-score yang dicetak emak gue (yang maniak PC game keluaran Gamehouse stelah mbak Ludi) dalam Bounce. Hohhoho..Nggak banget.

21. Kuliah udah masuk. Walaupun muak dengerin dosen, ngantuk, dan kedinginan (banget! Yakin deh. Penguin juga bakal pilek klo ikut kuliah di kelas itu) tapi senang sekali berjumpa dengan teman-teman dan seisi penghuni kampus =D

22. Kenyang di Notch. Makasih Nia, Ciput, Ika, Nilam..

23.Yak. Akhirnya setelah seminggu, kemaren ketemu bokap selama beberapa jam. Huh, kangen bapakkkuu..

Sometimes when you’re not in a state of happiness, recalling some good memories can make you feel better. Don’t you think so? :)

3 hal paling menyakitkan di dunia: sariawan, nahan boker, & kehilangan.

Friday, September 15th, 2006

1. Karena nggak ada bujangan tampan, jantan, mapan, berpengalaman, bermasa depan menjanjikan, beraura kemakmuran, penuh dengan segala sisi kebaikan, dan bernama belakang Brosnan (BTJMBBDBKPDSSKBBB) melamar lo dengan mas kawin seperangkat alat solat, uang tunai, janur kuning, dan ondel-ondel.

2. Karena duit satu triliun nggak turun dari langit. Kuisnya Nico Siahaan cuma ngasih maksimal 2 milyar. Dan lo bahkan nggak menang.

Itu dua alasan utama kenapa kita harus memilih jalan demi membangun masa depan dengan kita sendiri setelah lulus SMU. (baca: mau kuliah dimana).

PiercebrosnanMaksudnya, kalo ada satu aja BTJMBBDBKPDSSKBBB yang ikhlas ngajak kawin nikah resmi atau gue menang Superdeal 2 Milyar 500 kali, sehingga gue punya jaminan hidup enak, tabungan cukup, dan dana buat beramal, rasanya gue ogah repot-repot kuliah. Hohohoh. Ngawur Lhur.

Baiklah, penjelasan judul dulu. Menurut gue, sariawan dan nahan boker itu nggak asik banget. Dan kehilangan, jauh lebih sakit lagi. Karena dia berasosiasi dengan PENYESALAN.

Kehilangan orang, barang, uang, harga diri, aspek. Apapun itu. Rasanya nggak enak. Dan satu hal yang paling sering gue hilangkan adalah WAKTU. Itu yang selalu gue sesalkan.

Sebenernya gue kehilangan itu sekitar lebih dari dua tahun yang lalu. Tapi mungkin efeknya baru kerasa akhir-akhir ini. Gue kehilangan satu momen besar. Momen untuk mikirin dan menentukan masa depan gue. Atau tepatnya..kemana gue akan pergi setelah lulus SMU. Gue nggak manfaatin waktu satu bulan lebih liburan itu untuk mikir, milih, dan berjuang.

Gue punya cita-cita yang nggak bisa diterima sama masyarakat. Nggak lazim. Sampah. Should_i_be_like_her_1Jadi gue harus mengubur itu dan menggantinya dengan cita-cita yang lebih rasional, prospektif, dan prestigius. Dan relatif Making_things_like_thesekelihatan lebih mulia di mata masyarakat Indonesia. Walaupun itu, bukan apa yang gue mau. Dan gue emang cupu. Gue bahkan nggak pernah berjuang untuk memperjuangkan impian gue, atau berusaha membuka jalan lain untuk masa depan gue. Bisanya cuma menyerah. Dan nurutin apa kata orang.

Maka di sinilah gue.

Tanpa pernah coba untuk ikut ujian masuk mandiri institusi itu. Tanpa pernah coba beli formulirnya. Tanpa pernah tahu bisa atau nggak. Tanpa pernah coba mikir untuk mencari cita-cita alternatif sendiri. Bahkan tanpa pernah tahu rasanya SPMB.

Gue nggak pernah tahu rasanya memikirkan, berusaha, dan berjuang menentukan masa depan gue sendiri. Temen SMA gue pernah nanya,

“Kenapa nggak coba ujian masuk fakultas itu?”. Buat apa? Nggak ada yang dukung gue.

“Kenapa nggak coba univ luar aja? Kan banyak yang bagus?”. Gue selalu pengin sekolah di luar. Tapi nggak tahu mau ngapain.

“Kenapa nggak coba SPMB? Nilai rapor sama UAN lo kan bagus. Mnurut gue lo bisa pilih apa yang lo mau.”. Udahlah. Gue udah terlanjur diterima disini. Suka gak suka gue harus kuliah disini. Mau apa lagi? Ikut UM atau SPMB dengan risiko ngambil jatah orang kalo lulus (itu jahat lho) dan capek doang kalo nggak??

Lagian, karena begitu tahu gue nggak akan bisa mempertahankan impian gue, gue udah males mikir. Terserahlah mereka mau taro gue dimana. Akal gue yang nggak sehat dulu bilang, “If you fail to make your OWN dream come true, you’ll have no one to blame. Just do what they want you to do, live their dream, then if you fail you can blame them.” Bener-bener nggak bijaksana. Dan sekarang, kalo gue ngaku gue nggak bahagia disini, gue akan tampak seperti orang nggak bersyukur. 

Gue seneng sama lingkungan gue sekarang. Segala komunitas. Dan terutama, temen-temen gue. Para staff, plus satpam inter yang tampan macem Bachtiar & Zaenal (mamalia terganteng seFKUI). Hahah -Mulai keluar konteks- Jadi selama ini gue mikir, walaupun tadinya nggak tertarik, tapi mungkin gue akan bisa mencintai dunia kedokteran nantinya.

Tapi setelah 2 tahun ada di sini, kok gue tetep nggak cinta juga? Yang ada cuma keterpaksaan. Kalo selama ini gue tetep bisa survive di sini karena tanggung jawab aja. Karena orangtua gue udah berbaik hati mau nyekolahin tinggi-tinggi. Dan karena gue masih selalu percaya sama orangtua gue. Mereka kan sayang banget sama anak-anaknya, jadi pasti milihin yang terbaik buat gue. Satu lagi, karena udah terlanjur. Dan gue adalah orang yang akan ngerjain apapun sebaik-baiknya di suatu tempat yang udah terlanjur bikin gue kecemplung di situ. Suka nggak suka.

Well I just have to be more patient to see the result.

And to wait for the time when medicine world can finally win my heart. (haha)

All I need is patience.

Masalahnya adalah, si Sabar ini nggak selalu menemani. Kadang yang dateng malah Kejenuhan. Bosen. Capek nunggu. Yang menimbulkan rasa bingung.

Mau ngapain sih lo, Lhur? Lo bahkan nggak tahu lo mo jadi dokter apa nggak!

Kalo gue bilang nggak mau. Trus kenapa?

Makan_tuh_motif_batik_2Alasan gue belajar untuk lulus ujian adalah demi dapet libur penuh tanpa remed. Gue nggak suka pelajaran di sini. Apalagi yang itu tuh. Klo bukan demi ujian h*sto, mana sudi gue blajar motif-motif batik lewat mikroskop selama bertahun-tahun? Itu mengingatkan pada Tata Busana masa SMP, pelajaran paling susah setelah PPKn. 

Apapun perdebatan yang terjadi dalam otak gue, toh gue udah terlanjur ada di tempat ini.

Losers wish they could turn back the time.

Now I wish the same way. Am I one of them then?

I wish I had used my time wisely to think, choose, and fight, instead of giving up.

Because it feels like I’ve been walking on the wrong lane.

Dan gue menyesal.

Menyesal karena udah kehilangan momen itu. Waktu itu. Waktu yang harusnya gue pake dengan lebih bijaksana untuk mempertahankan impian gue.

***

Yah. Itu kisah suram beberapa minggu lalu. Sekarang udah nggak kok. Temen baik gue bilang, “Nggak bersyukur amat sih lo! Udah bagus lo kuliah di tempat yang bener. Walaupun nggak suka, lo sama sekali nggak ada masalah akademis maupun non-akademis. Hidup lo enak. Lo nggak harus susah payah untuk dapet nilai bagus. Nggak harus kerja keras buat bisa bayar kuliah. Nggak harus bingung pengin sekolah di mana. Nyadar hoi!”

Dan dia bener juga. Dari dulu sampe sekarang juga jenuh & muak kayak gini juga udah sering. Mungkin akumulasinya baru sekarang. Bisa juga karena akhir-akhir ini gue cuma lagi gampang kesel aja. Maklum musim pancaroba (hah?). Tapi yah, yaudahlah, hehe..

Gue nggak tau moral post edisi ini. Cuma pengin kasih tau seseorang, atau beberapa orang di luar sana yang pernah mengalami hal yang sama. Lo nggak sendirian kok :)

Lo dapet sesuatu yang lo nggak mau, tapi itu patut lo syukuri. Lo mungkin udah salah jalan kayak gue, tapi, salah jalan itu kan nggak selalu bikin lo tersesat. Mungkin jalan yang lo pikir salah justru bisa membawa lo ke tempat yang lebih indah.

Mungkin lo juga pernah kehilangan waktu dengan sia-sia tanpa lo bisa balikin lagi, dan akhirnya lo menyesal.

Kata temen-temen gue yang pecinta film 9 Naga, “Menyesal itu cuma buat banci.”

Itu bener. Tapi banci juga manusia.

Jadi gue pikir, menyesal itu manusiawi kok, hehe.. :p

(btw, AnakDurhaka kok gak minjemin gue DVD-nya yah, malah ke Vira, huhue..)

Duren_duda_kerenWalaupun sakit, tapi apa daya, nasi sudah jadi bubur. Maksudnya, Datuk Khalid sudah diambil Siti Nurhaliza (lho?). Artinya, yang sudah terjadi terjadilah. Mungkin sekarang, cara terbaik untuk ngobatin sakitnya penyesalan karena udah milih jalan yang salah adalah dengan berusaha menemukan hal-hal menyenangkan dari jalan itu. Meyakini bahwa itu baik. Berdoa supaya penyesalan itu nggak datang lagi. Dan nggak akan kehilangan hal yang berharga itu untuk yang kedua kali :)