1. Karena nggak ada bujangan tampan, jantan, mapan, berpengalaman, bermasa depan menjanjikan, beraura kemakmuran, penuh dengan segala sisi kebaikan, dan bernama belakang Brosnan (BTJMBBDBKPDSSKBBB) melamar lo dengan mas kawin seperangkat alat solat, uang tunai, janur kuning, dan ondel-ondel.
2. Karena duit satu triliun nggak turun dari langit. Kuisnya Nico Siahaan cuma ngasih maksimal 2 milyar. Dan lo bahkan nggak menang.
Itu dua alasan utama kenapa kita harus memilih jalan demi membangun masa depan dengan kita sendiri setelah lulus SMU. (baca: mau kuliah dimana).
Maksudnya, kalo ada satu aja BTJMBBDBKPDSSKBBB yang ikhlas ngajak kawin nikah resmi atau gue menang Superdeal 2 Milyar 500 kali, sehingga gue punya jaminan hidup enak, tabungan cukup, dan dana buat beramal, rasanya gue ogah repot-repot kuliah. Hohohoh. Ngawur Lhur.
Baiklah, penjelasan judul dulu. Menurut gue, sariawan dan nahan boker itu nggak asik banget. Dan kehilangan, jauh lebih sakit lagi. Karena dia berasosiasi dengan PENYESALAN.
Kehilangan orang, barang, uang, harga diri, aspek. Apapun itu. Rasanya nggak enak. Dan satu hal yang paling sering gue hilangkan adalah WAKTU. Itu yang selalu gue sesalkan.
Sebenernya gue kehilangan itu sekitar lebih dari dua tahun yang lalu. Tapi mungkin efeknya baru kerasa akhir-akhir ini. Gue kehilangan satu momen besar. Momen untuk mikirin dan menentukan masa depan gue. Atau tepatnya..kemana gue akan pergi setelah lulus SMU. Gue nggak manfaatin waktu satu bulan lebih liburan itu untuk mikir, milih, dan berjuang.
Gue punya cita-cita yang nggak bisa diterima sama masyarakat. Nggak lazim. Sampah.
Jadi gue harus mengubur itu dan menggantinya dengan cita-cita yang lebih rasional, prospektif, dan prestigius. Dan relatif
kelihatan lebih mulia di mata masyarakat Indonesia. Walaupun itu, bukan apa yang gue mau. Dan gue emang cupu. Gue bahkan nggak pernah berjuang untuk memperjuangkan impian gue, atau berusaha membuka jalan lain untuk masa depan gue. Bisanya cuma menyerah. Dan nurutin apa kata orang.
Maka di sinilah gue.
Tanpa pernah coba untuk ikut ujian masuk mandiri institusi itu. Tanpa pernah coba beli formulirnya. Tanpa pernah tahu bisa atau nggak. Tanpa pernah coba mikir untuk mencari cita-cita alternatif sendiri. Bahkan tanpa pernah tahu rasanya SPMB.
Gue nggak pernah tahu rasanya memikirkan, berusaha, dan berjuang menentukan masa depan gue sendiri. Temen SMA gue pernah nanya,
“Kenapa nggak coba ujian masuk fakultas itu?”. Buat apa? Nggak ada yang dukung gue.
“Kenapa nggak coba univ luar aja? Kan banyak yang bagus?”. Gue selalu pengin sekolah di luar. Tapi nggak tahu mau ngapain.
“Kenapa nggak coba SPMB? Nilai rapor sama UAN lo kan bagus. Mnurut gue lo bisa pilih apa yang lo mau.”. Udahlah. Gue udah terlanjur diterima disini. Suka gak suka gue harus kuliah disini. Mau apa lagi? Ikut UM atau SPMB dengan risiko ngambil jatah orang kalo lulus (itu jahat lho) dan capek doang kalo nggak??
Lagian, karena begitu tahu gue nggak akan bisa mempertahankan impian gue, gue udah males mikir. Terserahlah mereka mau taro gue dimana. Akal gue yang nggak sehat dulu bilang, “If you fail to make your OWN dream come true, you’ll have no one to blame. Just do what they want you to do, live their dream, then if you fail you can blame them.” Bener-bener nggak bijaksana. Dan sekarang, kalo gue ngaku gue nggak bahagia disini, gue akan tampak seperti orang nggak bersyukur.
Gue seneng sama lingkungan gue sekarang. Segala komunitas. Dan terutama, temen-temen gue. Para staff, plus satpam inter yang tampan macem Bachtiar & Zaenal (mamalia terganteng seFKUI). Hahah -Mulai keluar konteks- Jadi selama ini gue mikir, walaupun tadinya nggak tertarik, tapi mungkin gue akan bisa mencintai dunia kedokteran nantinya.
Tapi setelah 2 tahun ada di sini, kok gue tetep nggak cinta juga? Yang ada cuma keterpaksaan. Kalo selama ini gue tetep bisa survive di sini karena tanggung jawab aja. Karena orangtua gue udah berbaik hati mau nyekolahin tinggi-tinggi. Dan karena gue masih selalu percaya sama orangtua gue. Mereka kan sayang banget sama anak-anaknya, jadi pasti milihin yang terbaik buat gue. Satu lagi, karena udah terlanjur. Dan gue adalah orang yang akan ngerjain apapun sebaik-baiknya di suatu tempat yang udah terlanjur bikin gue kecemplung di situ. Suka nggak suka.
Well I just have to be more patient to see the result.
And to wait for the time when medicine world can finally win my heart. (haha)
All I need is patience.
Masalahnya adalah, si Sabar ini nggak selalu menemani. Kadang yang dateng malah Kejenuhan. Bosen. Capek nunggu. Yang menimbulkan rasa bingung.
Mau ngapain sih lo, Lhur? Lo bahkan nggak tahu lo mo jadi dokter apa nggak!
Kalo gue bilang nggak mau. Trus kenapa?
Alasan gue belajar untuk lulus ujian adalah demi dapet libur penuh tanpa remed. Gue nggak suka pelajaran di sini. Apalagi yang itu tuh. Klo bukan demi ujian h*sto, mana sudi gue blajar motif-motif batik lewat mikroskop selama bertahun-tahun? Itu mengingatkan pada Tata Busana masa SMP, pelajaran paling susah setelah PPKn.
Apapun perdebatan yang terjadi dalam otak gue, toh gue udah terlanjur ada di tempat ini.
Losers wish they could turn back the time.
Now I wish the same way. Am I one of them then?
I wish I had used my time wisely to think, choose, and fight, instead of giving up.
Because it feels like I’ve been walking on the wrong lane.
Dan gue menyesal.
Menyesal karena udah kehilangan momen itu. Waktu itu. Waktu yang harusnya gue pake dengan lebih bijaksana untuk mempertahankan impian gue.
***
Yah. Itu kisah suram beberapa minggu lalu. Sekarang udah nggak kok. Temen baik gue bilang, “Nggak bersyukur amat sih lo! Udah bagus lo kuliah di tempat yang bener. Walaupun nggak suka, lo sama sekali nggak ada masalah akademis maupun non-akademis. Hidup lo enak. Lo nggak harus susah payah untuk dapet nilai bagus. Nggak harus kerja keras buat bisa bayar kuliah. Nggak harus bingung pengin sekolah di mana. Nyadar hoi!”
Dan dia bener juga. Dari dulu sampe sekarang juga jenuh & muak kayak gini juga udah sering. Mungkin akumulasinya baru sekarang. Bisa juga karena akhir-akhir ini gue cuma lagi gampang kesel aja. Maklum musim pancaroba (hah?). Tapi yah, yaudahlah, hehe..
Gue nggak tau moral post edisi ini. Cuma pengin kasih tau seseorang, atau beberapa orang di luar sana yang pernah mengalami hal yang sama. Lo nggak sendirian kok
Lo dapet sesuatu yang lo nggak mau, tapi itu patut lo syukuri. Lo mungkin udah salah jalan kayak gue, tapi, salah jalan itu kan nggak selalu bikin lo tersesat. Mungkin jalan yang lo pikir salah justru bisa membawa lo ke tempat yang lebih indah.
Mungkin lo juga pernah kehilangan waktu dengan sia-sia tanpa lo bisa balikin lagi, dan akhirnya lo menyesal.
Kata temen-temen gue yang pecinta film 9 Naga, “Menyesal itu cuma buat banci.”
Itu bener. Tapi banci juga manusia.
Jadi gue pikir, menyesal itu manusiawi kok, hehe.. :p
(btw, AnakDurhaka kok gak minjemin gue DVD-nya yah, malah ke Vira, huhue..)
Walaupun sakit, tapi apa daya, nasi sudah jadi bubur. Maksudnya, Datuk Khalid sudah diambil Siti Nurhaliza (lho?). Artinya, yang sudah terjadi terjadilah. Mungkin sekarang, cara terbaik untuk ngobatin sakitnya penyesalan karena udah milih jalan yang salah adalah dengan berusaha menemukan hal-hal menyenangkan dari jalan itu. Meyakini bahwa itu baik. Berdoa supaya penyesalan itu nggak datang lagi. Dan nggak akan kehilangan hal yang berharga itu untuk yang kedua kali