Archive for October, 2006

Toxomalasis lhurii

Saturday, October 7th, 2006

A newcomer in the world of paraSHITology.

(Yes, paraSH*Tology. Because recently I’ve been studying a sh*tload of sh*tty subject, dealing with everything that sh*ts, and of course playing with human real sh*t. And oh sh*t, now I’m talking rude!)

***

Iya tau, itu bukan cara yang benar untuk suatu tatanama.

Tapi saat ini gue sedang menderita rasa malas luar biasa yang nggak jelas etiologinya.

Jadi tolong jangan protes dan biarkan gue menyebutnya demikian, oke?

Toxomalasis lhurii = racun malas yang menyerang Lhuri.

Ketika semester 5 dimulai, gue mengawalinya dengan ambisi-ambisi besar yang ingin gue wujudkan. Tapi setelah 2 bulan kuliah, rasa malas itu datang, menginaktivasikan, dan perlahan menghancurkan ambisi-ambisi tersebut.

Stage 1. 3 hari terakhir liburan = Ambisiosis takrealistis

àBerharap tingkat tiga bisa menjadi sebrilian Robert Shinto. Menjadi seorang straight-A student. Jadi top three di angkatan. Dan dapet voucher buku ratusan ribu rupiah dari Sagung Seto kayak Yulinda, Ika, dan Mira.

Comment: Lo akan bisa melakukannya suat hari nanti Lhur! Yah, suatu hari..ketika babi bisa terbang..(In other words, mimpi-kali-yee)

Stage 2. 2 minggu pertama kuliah = Ambisiosis redusis

àSialan nih PA. Toples Skippy-nya nggak dikeluarin. Ujian teori bikin gue tiba-tiba berhasrat menari poco-poco goyang pica-pica waktu baca soalnya. Yah semoga paling nggak nilai gue nggak turun dari tahun lalu.

Comment: mungkin nggak yah?

Stage 3. Minggu ketiga kuliah = Ambisiosis yukyuk

àApa-apan nih Mikro. Bakterinya sok imut. Virusnya sok asik. Gimana gue bisa dapet nilai cihuy di sini??!! Yah mudah-mudahan gue masih dapet minimal rata B semua.

Comment: yuukkk..

Stage 4. Selesai ujian mikro teori = Ambisiosis tahudiridongus

àArrrgghhh! Gue tau tingkat 3 susah. Tapi nggak nyangka sezalim ini. Yah yaudahlah nggak papa deh dapet C asal masih lulus, bebas remed, dan dapet liburan penuh.

Comment: kadar ambisi semakin diturunkan..

Stage 5. Seminggu bergaul bersama cacing dan kawan-kawan = Oligoambisiosis

àAh males banget. Biarin deh remed asal nggak kena her abis judisium!

Comment: ambisi semakin menipis.

Stage 6. Hari ini = Ambisiosis mampuus.

àmaksudnya, ambisinya yang udah mampus. Mati. Tamat. Musnah. Hancur. Lisis.

Bosan kuliah. Daftar biro jodoh Kompas aja lah, biar cepet kawin..

Comment: daradam, daradam.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Makan_tuh_trichuris_trichiuraGimana nggak dongkol.

Cacing-cacing itu! Bakteri-bakteri itu! Tumor-tumor itu!

Mereka sem ua punya nama yang lebih bagus daripada nama gue.

Dan gue harus ngapalin satu-satu aja gitu lho.

Beserta kisah cinta, hobi, tempat gaul mereka, atau gaya infektif apa yang sedang ‘in’.

Padahal akhir-akhir ini gue lagi b erasa uzur. Pikun. Seperti gejala penuaan dini.

Gampang banget lupa. Bahkan untuk hal-hal sederhana.

            “Eh, eh, Plasmodium sama kudanil bedanya apa yah?”

Juga mulai sering berhalusinasi ketika ujian.

Tantowi Yahya: “Anda dihadapkan pada pertanyaan nomor 34 tentang klasifikasi jamur. Apakah final answer Anda?

Dian Sastrowardoyo: “Minggir mas Tanto, sekarang ini jadi kuis saya. Nah, saudari Lhuri, apakah Anda akan menggunakan pilihan bantuan?”

Gue: “Boleh coba phone a friend?”

Sebelum pembawa acara imajiner itu menjawab, dokter Yeva masuk dan duduk di meja pengawas. Nasib, dapet nomer undian tempat duduk tepat di depan meja  pengawas itu. Bingo.

Dan halusinasi itu semakin menjadi kebiasaan. Kadang Nico Siahaan juga muncul menawarkan tirai 1 dengan jawaban A atau tirai 2 dengan jawaban E. Dan biasanya apapun yang gue pilih, gue harus pulang dengan membawa ZONK.

Gue mulai merasakan betapa ramahnya tingkat dua dulu. Dan betapa royalnya nilai-nilai itu didermakan. Ah kangen sekali..

Belum lagi, waktu bersenang-senang gue makin terkorup. Gue makin jarang pulang ke rumah. Weekday gue habiskan dengan kesepian di kos, kangen rumah, merindukan masakan ibu dan mbak Lis, menghibur diri dengan menyaksikan sinetron religius nggak logis, tanya jawab interaktif secara menyedihkan bersama Dora the Explorer di GlobalTV, serta menanti azan maghrib favorit di transTV.

Hidup terasa menjemukan. Kerjaan  gue gitu-gitu doang. Kuliah-bingung-ujian-jengkel-kuliah-bingung-ujian-jengkel.

            Temen SMA gue (TSMAG): “Enak Lhur kuliah? Dapet cowok gak di sana?”

Gue: “Daur hidup Toxoplasma gondii aja gue masih bingung. Gimana bisa ngerti pikiran cowok yang ribet mrungkel-mrungkel kayak buntut Trichuris? Capek tau”

            TSMAG: “Tri siapa? Ganteng gak?”.

[Wakwawww, percakapan ini sungguhan lho]

Sekarang rasanya jadi maleeeeeessss banget, belajar. Pertentangan batin mulai tak lazim.

Lhuri yang baik (LYB): “Ayo belajar”

Lhuri yang jahat (LYJ): “ Ogah ah. Males.”

LYB: “Ayo dong, biar pinter..”

LYJ: “Nggak suka materinya..Biarin ajalah, wajar kalo gak bisa..”

LYB: ”Suka nggak suka harus belajar! Malu kan kalo dapet nilai jelek?”

LYJ: “Uhuhh..iya deh..”

LYB: ”Eh itu apa?”

LYJ: "DVD That 70’s show-nya Nia. Complete season.”

LYB: ”Nonton dulu yuk.”

LYJ: “Lahh??”

Katakan_peta_katakan_petaGitu deh. Sesat nih, sesat.

Sebenernya sih bahan-bahan yang lagi gue pelajari di kampus nggak segitu nyebelinnya. Seru juga kok. Cuma waktunya kurang banget. Jadi rasanya kuliah jadi nggak nikmat. Serasa diburu-buru. Bikin nggak bisa belajar sambil bersenang-senang, hehehe..Jadi capek, jenuh, dan akhirnya males ngapa-ngapain deh, hahhaha..

Duuuuuuhhhh…Emang rasa males itu datengnya dari diri sendiri.

Jadiii..Gimana ngobatinnya yah?? Uhhuhuhuhuhuhh L

[P.S. maaf  karena telah berkata kasar untuk intronya, selamat menunaikan ibadah puasa]